Thursday, July 12, 2012

Bed Evapotranspirasi, Solusi Sanitasi Rumah Tangga


    Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi (pengelolaan air limbah domestik) terburuk ketiga di Asia Tenggara setelah Laos dan Myanmar (ANTARA News, 2006). Menurut data Status Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2002, tidak kurang dari 400.000 m3/hari limbah rumah tangga dibuang langsung ke sungai dan tanah, tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu. 61,5 % dari jumlah tersebut terdapat di Pulau Jawa. Pembuangan akhir limbah tinja umumnya dibuang menggunakan beberapa cara antara lain dengan menggunakan septic tank, dibuang langsung ke sungai atau danau, dibuang ke tanah , dan ada juga yang dibuang ke kolam atau pantai.

      Salah satu sumber pencemar terbesar sungai-sungai di Indonesia adalah limbah rumah tangga (blackwater dan greywater). Greywater (limbah rumah tangga ringan) berasal dari air bekas cucian peralatan rumah tangga, seperti peralatan makan, pakaian, dll. Di beberapa wilayah di Indonesia seperti Jakarta Timur dan Jakarta Utara, air bersih sudah menjadi barang langka. Tidak hanya di Jakarta, kelangkaan air bersih sekarang ini menjadi salah satu masalah di dunia. Kenaikan jumlah penduduk membuat kebutuhan air semakin meningkat. Menurut National Water Company, rata-rata orang di rumah menggunakan sekitar 1600 liter per hari untuk berbagai kebutuhan. Tiga kebutuhan air terbesar dalam rumah tangga adalah untuk menyiram tanaman, mandi, dan mencuci. Pengolahan limbah terbaik adalah pengolahan yang dilakukan dimana limbah dihasilkan. Maka sebaiknya pengolahan limbah ini dilakukan sejak dari rumah tangga (Natawidha, 2011).

      Pemanfaatan tumbuhan sebagai pemulih kualitas lingkungan merupakan solusi yang memberikan banyak keuntungan dan ekonomis. Hal ini menyebabkan pemanfaatan tumbuhan sebagai pemulih kualitas lingkungan semakin populer dan digemari. Tumbuhan memiliki kemampuan yang disebut phytopumping, yaitu kemampuan menyerap air melalui akar dan air yang diserap akan mengalami transpirasi melalui daun yang dibantu oleh sinar matahari. Kemampuan phytopumping yang dimiliki oleh tumbuhan dapat membantu perbaikan sanitasi (Mangkoedihardjo, 2007). Hal ini dikarenakan zat-zat pencemar yang terjangkau oleh akar dapat terserap oleh akar tumbuhan. Tumbuhan darat, terutama tumbuhan yang memiliki jangkauan akar yang panjang dan luas sangat efektif digunakan sebagai pereduksi zat pencemar. Zat pencemar tersebut bukan hanya zat pencemar yang masuk melalui akar, namun berlaku juga untuk zat pencemar yang ada di udara.

      Sanitasi setempat mengunakan tangki septik dan resapan tanah. Tangki septik mampu menurunkan konsentrasi BOD 30%, sehingga efluennya sebesar 175mg/L. Tanah mampu menurunkan BOD 70%, sehingga efluen menuju air tanah adalah sebesar 75mg/L. Efluen resapan tanah masih melebihi batas stabil. Oleh karena itu disarankan resapan tanah dikonversi menjadi bed evapotranspirasi, yang mempu mengolah BOD hingga 90%. Dengan bed evapotranspirasi, selain BOD masuk air tanah sebesar 25mg/L di bawah batas stabil, juga kuantitasnya diperkecil. Tambahan pula bed evapotranspirasi mempertahankan tanah harus dalam kondisi aerobik, sehingga GWP (Global Warning Potential) kecil. Teknologi bed evapotranspirasi di perumahan individual membutuhkan cukup lahan seluas 90m2 (jumlah jiwa 5*kebutuhan luas tumbuhan 18m2/jiwa). Karena itu bed evapotranspirasi cocok diterapkan perumahan berlahan luas dan/atau sebagai kebijakan penerapan untuk perumahan baru. Disamping itu bed evapotranspirasi cocok diterapkan untuk sanitasi kolektif beberapa rumah, yang satuan kapasitasnya lebih kecil (hemat lahan) dibanding sanitasi individual (Mangkoedihardjo, 2010).

      Menurut Mangkoedihardjo & Samudro, 2010, sanitasi setempat yang ada dapat diperbaiki menggunakan teknologi bed evapotransporasi menggunakan tumbuhan di atas sumur resapan yang ada dengan dua pilihan, yaitu :


1. Bed Evapotranspirasi Resapan (BER)
Teknologi BER membuat aliran air limbah terbagi sebagian besar menuju udara melalui transpirasi tumbuhan dan sebagian kecil diresapkan dalam tanah sehingga kontaminasi air tanah dapat diperkecil.



2. Bed Evapotranspirasi (BE)
Teknologi BE menghasilkan proteksi air tanah dari kontaminasi air limbah, yang dapat dilakukan dengan pelapisan sumur resapan menggunakan bahan kedap air. Teknologi BE sangat dianjurkan untuk daerah dengan kondisi air tanah untuk sumber penyediaan air minum.


Studi Kasus:
      Dalam satu rumah kos terdiri atas 22 penghuni. Setiap orang menghasilkan BOD 50 gr/orang/tahun dan setiap orang memerlukan air minum 100 L/orang/hari. Buatlah desain sumur resapan dengan teknologi bed evapotranspirasi air limbah di tempat tersebut.


      Direncanakan tumbuhan yang digunakan adalah rumput gajah, kacang tanah, dan bayam. Pennggunaan rumput gajah dikarenakan tumbuhan tersebut adalah tumbuhan estetis yang dapat mempercantik lingkungan dan tidak terlihat sebagai pengolah air limbah. Kacang tanah dan bayam digunakan untuk pemanfaatan pengolahan air limbah pada lahan agrikultur kemudian, namun dalam skala rumah tangga dapat memberi kontribusi cadangan nutrisi. Bayam mampu menurunkan nitrat secepat mikroba dan kacang tanah dan rumput gajah secara signifikan melebihi kecepatan proses mikrobial (Mangkoedihardjo & Samudro, 2010).



Daftar Pustaka
Anonim. 14 Desember 2006. Indonesia Miliki Sanitasi Terburuk Ketiga di Asia Tenggara. Jakarta Pusat: Antara News.
Mangkoehardjo, S. dan Samudro, G. 2010. Fitoteknologi Terapan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Mangkoehardjo, S. 2007. Phytopumping Indices for Evapotranspiration Bed. Applied Sciences Research 2 (3): 237-240.
Mangkoehardjo, S. 2010. Sanitasi Delta Karbon Nol untuk Kota Surabaya. Paper disampaikan dalam Seminar Nasional Teknologi Lingkungan VII, ITS, Surabaya, 25-26 Oktober 2010.
Natawidha, C. 2011. Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga Menjadi Air Bersih. [online]. (http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2011/05/25/pengolahan-air-limbah-rumah- tangga-menjadi-air-bersih, diakses tanggal 12 April 2012).

Friday, July 6, 2012

London's Parks & Open Spaces


      London merupakan ibukota Inggris dan Britania Raya, wilayah metropolitan terbesar di Inggris dan daerah urban terbesar di Eropa. Dengan luas area ribuan kilometer persegi meliputi beberapa borough dan daerah-daerah suburban-nya London menjadi kota yang lengkap dengan distrik-distrik komersial dan perkantoran, pusat-pusat pelancongan, daerah perumahan dan tidak ketinggalan lahan terbuka hijau berupa taman-taman cantik. London menyatakan sebagai salah satu kota terhijau di dunia dengan tidak kurang dari setengah luas area dari London adalah daerah hijau dan biru menandakan banyaknya jumlah taman dan danau-danau penghias kota. Maka sudah sepatutnya kita terkesan dengan ibukota Inggris ini yang walaupun sibuk dan modern namun memiliki banyak ruang terbuka hijau yang tidak sekedar penuh dengan pohon dan bunga, namun juga berbagain jenis hewan seperti burung, bebek, angsa, pelikan, tupai, bahkan rubah.


      Seperti dikutip dari website resmi London, Walikota London ingin menjadikan London menjadi lebih hijau. Hal tersebut bukan hanya karena taman dan ruang terbuka hijau adalah salah satu hal yang membuat London menjadi lebih istimewa, namun juga karena jaringan ruang terbuka hijau ibukota (yang terdiri dari taman-taman dan pohon-pohon yang berderet di jalanan, sungai dan waduk, lahan pertanian dan hutan) memberikan perlindungan yang dapat diterima bagi dunia urban London yang semakin meningkat. Manfaat lain adalah: mengunjungi taman yang dikelola dengan baik atau berjalan menyusuri pepohonan membantu memerangi masalah kesehatan seperti obesitas dan meningkatkan kesejahteraan mental; menghijaukan ruang abu-abu (grey spaces) London (termasuk atap dan dinding) dapat menjaga kota menjadi lebih dingin dalam cuaca panas, mengurangi risiko banjir di cuaca basah, dan mengatasi kemungkinan dampak perubahan iklim; mempromosikan pendekatan baru untuk pengelolaan lahan perkotaan dapat mendorong warga London untuk menanam makanan mereka sendiri atau membuat ruang bagi satwa liar untuk meningkatkan hubungan orang dengan alam; serta mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam perawatan dan pengelolaan lingkungan lokal memupuk kebanggaan masyarakat dan kohesi masyarakat.


      Ada banyak taman dan ruang terbuka hijau di London. Ruang terbuka hijau di pusat kota London terdiri dari lima Royal Park, dilengkapi dengan beberapa taman kecil yang tersebar di seluruh pusat kota. Ruang terbuka hijau di seluruh kota didominasi oleh tiga Royal Park dan banyak taman lainnya dan ruang terbuka hijau dalam berbagai ukuran. Pada umumnya tempat-tempat ini dikelola oleh pemerintah lokal London borough, meskipun ada pula pemilik lain termasuk National Trust dan City of London Corporation.

      Ada delapan Royal Park di London, lima diantaranya berbentuk lahan perburuan untuk kerajaan yang sekarang dibuka untuk umum, yaitu: Green Park (16 ha), St. James’s Park (34 ha), Hyde Park (140 ha), and Kensington Gardens (111 ha) yang berada di sebelah barat pusat kota, dan Regent’s Park (197 ha) yang berada di sebelah utara. Tiga Royal Park lainnya berada di pinggir kota, yaitu: Greenwich Park (73 ha) di sebelah tenggara, serta Bushy Park (450 ha) dan Richmond Park (955 ha) di sebelah barat daya. Selain Royal Park, terdapat pula garden square yang dibangun untuk penggunaan pribadi penduduk di distrik yang modis, tetapi dalam beberapa kasus sekarang terbuka untuk umum seperti Russell Square di Bloomsbury, Lincoln’s Inn Fields di Holborn, dan Soho Square di Soho; juga council park yang dibangun di pertengahan abad ke-19 seperti Victoria Park (86 ha), Alexandra Park (80 ha) dan Battersea Park (83 ha); dan juga ruang terbuka hijau lainnya di daerah pinggiran kota, seperti Hampstead Heath (320 ha), Clapham Common (89 ha), Wandsworth Common (73 ha), Wimbledon Common, (sekitar 460 ha), Epping Forest (2.476 ha), Trent Park (169 ha), Hainault Forest Country Park (136 ha), dan lain-lain.



      City of London Corporation adalah salah satu dari 33 London borough yang bertugas untuk melindungi, mendanai, dan mengelola lebih dari 4.330 ha ruang terbuka alami dan bersejarah, oleh Charitable Trust, untuk rekreasi publik dan kesehatan. Ruang terbuka hijau yang sebagian besar dijalankan oleh Charitable Trust ini dikelola dengan dana dari City of London tanpa memungut biaya kepada masyarakat. Ruang terbuka hijau yang dinikmati oleh jutaan pengunjung setiap tahun, merupakan habitat satwa liar penting, situs kepentingan ilmiah, dan cagar alam nasional yang dapat dinikmati oleh publik. City of London Open Spaces Department berkomitmen untuk menyediakan layanan terbaik dengan menggunakan sumber daya yang tersedia, memastikan manajemen yang adil dan efisien, komunikasi yang baik dan budaya pembelajaran terbuka.


      Dalam pengelolaannya, City of London membuat peraturan-peraturan, manajemen, dan masterplan tersendiri bagi masing-masing ruang terbuka hijau yang dikelolanya, baik bagi tanaman, properti, dan juga para pengunjung. City of London menganggap konsultasi merupakan bagian terpenting dari manajemen yang efektif, maka dari itu City of London bekerjasama dengan organisasi lokal yang diwakili oleh Komite Konsultan dan Manajemen Heath, serta mengadakan pertemuan berkala dengan Heath and Hampstead Society and English Heritage. Pada tahun 2001 City of London mengundang Direktorat Strategi Greater London Authority untuk menghasilkan laporan yang menunjukkan teknik manajemen yang sesuai untuk hutan, semak, dan pagar tanaman yang ada di Heath. Komite Manajemen Heath mengakui bahwa dokumen ini menambahkan detail penting dengan Rencana Manajemen. Selama musim dingin 2001/2002 staf mulai menerapkan saran tentang daerah hutan kecil dari Heath. Tujuannya adalah untuk meningkatkan keindahan serta konservasi alam dan nilai kemudahan hutan dengan penggunaan teknik manajemen yang dipakai. City of London juga menerima masukan dari masyarakat demi pengembangan ruang terbuka hijau yang dikelolanya. Masukan tersebut dapat dikirimkan melalui feedback ke website www.greenstat.org.uk yang diciptakan untuk memberi kesempatan bagi masyarakat untuk mengomentari bagaimana ruang terbuka hijau tersebut dikelola. Masyarakat umum juga dapat mengunduh berbagai macam berkas, seperti peraturan, perencanaan manajemen, laporan tahunan, serta berbagai info mengenai fasilitas yang tersedia di website resmi City of London.



Daftar Pustaka
Anderson, Helen. 2011. City of London Open Spaces. [online]. (http://www.cityoflondon.gov.uk/Corporation/LGNL_Services/Environment _and_planning/Parks_and_open_spaces.htm, diakses tanggal 28 Februari 2012).
Anonim. ─. Greening London. [online]. (http://www.london.gov.uk/priorities/environment/greening-london, diakses tanggal 28 Februari 2012).
Anonim. ─. Taking Bold Steps to Realise the Vision of a Greener London. [online]. (http://www.london.gov.uk/priorities/environment/vision-strategy, diakses tanggal 28 Februari 2012).
Bentley, David. 2011. Management and Consultation. [online]. (http://www.cityoflondon.gov.uk/Corporation/LGNL_Services/Environment_and_planning/Parks_and_open_spaces/Hampstead_Heath/Management+and+consultation.htm, diakses tanggal 28 Februari 2012).
Putra, Narendra Kurnia. 2012. Let’s Make It Green!. [online]. (http://narendrakurnia.wordpress.com/2012/02/19/lets-make-it-green, diakses tanggal 28 Februari 2012).
Tasetto, Vanessa. 2012. Hampstead Heath. [online]. (http://www.cityoflondon.gov.uk/Corporation/LGNL_Services/Environment_and_planning/Parks_and_open_spaces/Hampstead_Heath, diakses tanggal 28 Februari 2012).
Wikipedia. 2011. Parks and Open Spaces in London. [online]. (http://en.wikipedia.org/wiki/Parks_and_open_spaces_in_London, diakses tanggal 28 Februari 2012).
Wikipedia. 2012. London. [online]. (http://en.wikipedia.org/wiki/London, diakses tanggal 28 Februari 2012).